Rp 234.000

Kepemimpinan Transformatif berbasis Kinerja Otak Sehat

Kita tidak bisa menyelesaian persoalan baru, termasuk di bidang kepemimpinan, dengan cara yang lama. Hari ini kita berhadapan dengan dunia yang penuh dengan gejolak (volatility), ketidakpastian (uncertainty), keruwetan (complexity), dan ketidakjelasan (ambiguity) [era VUCA]. Dunia semakin penuh dengan irasionalitas dan emosionalitas, akibat munculnya banyak desrupsi. Padahal otak manusia pada dasarnya sudah bias emosi. Apalagi jika otak dibiarkan bekerja secara emosional.

Neuroleadership in action, yang menjadi saripati buku ini, merupakan jawaban atas persoalan itu. Buku ini bisa menjadi panduan bagi para leader untuk mentransformasi emosi destruktif menuju emosi yang konstruktif. Dalam bahasa neuroscience, seorang leader di era VUCA harus (1) proaktif dan selalu mendayagunakan smart-lymbic , hingga pada tahap habit. Merujuk habit pertama itu, seorang leader juga perlu (2) memiliki kecerdasan dan kebiasaan membangun tim. Sebab, single sistem tidak akan mampu lagi mengatasi dunia yang semakin kompleks ini. Kita akan diperhadapkan dengan semakin banyak key stakeholders, dengan kepentingan yang makin beragam dan makin irasional. Dalam situasi dan kondisi seperti itu, cara kerja yang efektif hari ini bisa langsung tidak relevan di esok hari. Di situlah seorang pemimpin perlu (3) selalu melakukan inovasi dalam segala hal.

Jadi, sesungguhnya judul tematik buku ini adalah Three Habits of Neuroleadership in Action. Ini semua adalah hasil refleksi total penulisnya - refleksi intelektual, emosional, spiritual - atas enam tahun perjalanannya memelajari neuroleadership, dari banyak guru antara lain David Rock, dari berbagai riset, dan tentu saja dari riset pribadinya di dunia kepemimpinan di Indonesia.