Menjadi Pemimpin Fasih Masa Depan berbasis Kinerja Otak Sehat

Dr. Solikin memulai sambutannya dengan poin konvergensi berbagai teknologi ke dalam satu genggaman yang bernama gadget. Di situ beliau menjelaskan bahwa kata VUCA kini telah berkembang menjadi TUNA dengan deskripsi “T” sebagai turbulence yang menggantikan volatile, serta “N” sebagai novelty yang menggantikan complexity.

Beliau juga menekankan bahwa BI Institute sebagai “the only” yang mempelajari transformasi leadership. Beliau menggambarkan era augmented dengan sebuah kisah tentang penjual bebek “bagas” di Klaten yang penjualannya meningkat drastis justru saat penjual bebek itu bersentuhan dengan dunia maya, dalam hal ini ia mendaftarkan usahanya dalam sebuah platform digital yang membuat nama bebeknya dikenal luas oleh masyarakat.

Peran media sosial juga tak bisa dipandang sebelah mata. Saat ini media sosial telah menjadi jantung perekonomian masyarakat mikro karena dari sana mereka dapat mempromosikan barang dagangannya. Telah terjadi conversation tools yang besar kaitannya dengan era augmented ini, sehingga beliau menganjurkan untuk tidak gagap teknologi, khususnya IT.

Alih-alih menghindar, beliau justru menyarankan masyarakat untuk melakukan “adoption of the technology”, kemudian mengadaptasikannya dalam keseharian. Tak hanya itu, masyarakat juga diharapkan mampu mengantisipasi hal-hal apa saja yang akan berkembang seiring bertumbuhnya teknologi di dunia augmented.

Di usia BI Institute yang berjalan 3 tahun, beliau menjelaskan bahwa BI Institute amat berkonsentrasi terhadap peran leadership dalam menggerakkan pertumbuhan perekonomian bangsa. Ini sesuai dengan manifestonya yang meletakkan BI Institute sebagai “Center of Excellence”.

Beliau juga menjelaskan bahwa dunia sedang mengalami pertumbuhan yang eksponensial. Untuk menjabarkan kata “kuno” tak perlu lagi melihat ke abad pertengahan atau 2-3 abad yang lalu. Kata “kuno” kini sudah melintasi batas waktu. Hanya dengan melihat mundur 10 tahun saja, manusia era augmented sudah mendapat julukan kuno.

Maka di sinilah peran “Growth Mindset” sebagai solusi yang ditawarkan oleh penulis buku “NeuroLeadership in Action”, Sdr. Roy T. Amboro, untuk menghasilkan insight. Tanpanya, otak akan stagnan karena pada dasarnya otak lebih suka dengan kepastian dan kemudahan. Ini berlawanan dengan VUCA yang penuh dengan gejolak, ketidakpastian, kerumitan dan kerancuan.

Pemimpin yang growth mindset akan mengantarkan manusia Indonesia kepada kemanusiaan yang seutuhnya: smartpeople, smartsociety, smartcivilization. Ini untuk menyongsong program Indonesia 4.0 yang siap bersaing.

Terakhir, Dr.Solikin menjelaskan bahwa Indonesia butuh pemimpin yang dapat mengoptimalkan kinerja otaknya untuk membuat inovasi dan pencerahan. Sudah saatnya Indonesia tidak lagi reaktif melihat zaman, sehingga segala inovasi yang tercipta melalui konsep NeuroLeadership ini memberi kontribusi nyata pada perekonomian Indonesia.

Sambutan ini sekaligus penanda bahwa acara seminar dan bedah buku telah dibuka secara resmi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *