Jika kita berbicara soal otak dan pikiran manusia ibarat berbicara soal fine dining maka saat ini lengkap sudah kajian mulai dari appetizer sampai dengan dessert. Saya membayangkan sajian berupa kajian otak dalam ranah neurosains ini hadir di sebuah restoran temaram beratap langit autumn Tuscany.

Aperitivo muncul dalam sloki prosecco atau sparkling non alkoholik yang berisi cairan neuropeptida dan neurotransmiter. Ada cocktail dopamin, serotonin, oksitosin, dan norepinefrin. Hmmm, menggugah selera, dan tentu saja memancing tanya, hidangan apa yang akan tersaji selanjutnya.

Tak lama tibalah anti pasto berupa potongan mikro diseksi otak super tipis dari Allen Institute, persis prosciutto yang diletakkan di atas bruschetta. Lalu tentu saja tiba saatnya untuk primo, hidangan “berat” pertama yang ternyata berupa gnocchi batang otak dengan kaldu sumsum sapi muda. Betapa kompleksnya aneka rasa berupa data yang diterima dari jaringan saraf somatik dan luasan dermatoma yang hadirkan orkestrasi harmoni dalam balutan lembayung jingga di tepi kota Fiorentina.  

Inilah sup Medici yang berhasil meramu nafsu dalam kelindan traktus spinothalamicus yang sebagian di antaranya akan menggarami hipokampus. Juga amigdala dan hipotalamus.

Secondo telah menunggu. Sajian limbik dengan potongan-potongan cornu anterior dari area hipokampal hadir bak lobster yang menjadi lambang pamuncak rasa. Bahagia dan air mata kini terperangkap dalam gelatin umami bernama cinta. Itulah secondo piatto yang memerlukan hadirnya contorno (side dish) berupa sayur-mayur agar tekstur rasa terasa berbeda dan soal cita dapat menaiki podium juara.

Secondo Piatto juga hidangan pamuncak yang bukan hanya lobster atau daging domba muda, ia dapat muncul dalam bentuk medium rare wagyu yang marbling dengan dopamin. Ia dapat menjadi reward system, sekaligus menjadi potongan steak saikoro area prefrontal yang digadang sebagai area paling agung di otak manusia. Tapi cukupkah itu? Belum.

Tentu saja belum. Kita perlu serat, kita perlu sirkuit, kita perlu pintasan trajektori. Kita perlu insalata yang terdiri dari sayur-mayur berlapis sebagaimana lapisan piramidal di korteks otak manusia. Lalu jangan lupa, selalu ada formaggi e frutta , buah segar seperti plum, apricot, dan cherry yang dimakan dengan irisan keju. Ada bagian-bagian pengunci yang menstabilkan koneksi. Ada habituasi berdasar pola Hebbian yang melatih kepekaan dan kemampuan menarik kembali memori.

Jangan lupa juga, bahwa hidup perlu dolce, perlu pemanis dan preferensi. Maka lahirlah ilusi, delusi, dan tentu saja imajinasi. Es krim dalam bentuk sorbeto  ataupun gelato adalah ilusi manis tentang hidup yang kerap pahit.

Bukan hanya itu saja, ada caffe, ada espresso, ada machiato, ada doppio. Ada adrenalin, ada kortisol, dan ada pula beta endorfin serta enkefalin. Begitulah hidup, meski belum lengkap rasanya jika tak kita cerna juga digestivo yang tersedia. Layaklah kita sedikit menyulangi kebahagiaan diri sendiri dengan lemoncello atau amaro. Plastisitas yang menghantarkan pada terbentuknya pola adaptif untuk menyelaraskan data yang dikonsumsi dengan nutrisi yang harus diabsorbsi.

Demikianlah buku “NeuroLeadership in Action”, bagaikan hidangan lengkap Italia klasik, ia mengantarkan kita pada pengalaman tidak hanya intelektual, tetapi juga konseptual dan spiritual. Diawali dari masalah dunia yang bergolak dalam dinamika VUCA yang bisa juga dinisbatkan arti baru padanya: vulcanic eruption, uncontrolled, chaos, dan amazing moment tentu saja.

Mau diakui ataupun tidak, kita telah tiba di masa yang bukan sekadar disrupsi. Disrupsi pada pengetahuan, pengalaman, bahkan khayalan, yang membuat kita kehilangan pijakan nalar meski secara biologis sadar.

Momentum luar biasa di saat banyak orang berbicara soal solusi dalam menghadapi permasalahan, bisa go around, go above, go hide, maka kita harus mulai berpikir untuk go ride, menunggangi masalah dan mengoptimalkan pemanfaatan energi kinetik yang menjadi fitrahnya. Fitrah semua makhluk Tuhan untuk bergerak, untuk mengonversi energi dan memanennya sendiri (entalpi-entropi).  

Kondisi ini diperkaya dengan fakta bahwa manusia memiliki fungsi dasar untuk saling mensubstitusi peran, melengkapi/komplementasi, dan memperkaya/ augmentasi. Maka pemimpin transformatif haruslah menguasai jurus-jurus otak baru yang antara lain maujud dalam rangkaian jurus kadal basilika yang mengembangkan jurus-jurus Suhu Kim Chan dari Padepokan Samudera Biru Lautan Merah. Lautan Merah ternyata adalah arena berlari bagi sang Kadal Zohri. Dengan selaput bernano teknologi, maka lautan merah tak ubahnya bak lintasan lari seputaran lapang Gasibu yang nyaman untuk ditapaki.

Perlu kecerdasan basilika dan determinasi Zohri pada pemimpin transformatif. Perlu ketajaman analisis sekaligus kepekaan rasa. Perlu perancah maya yang menopang kinerja OFC, dlPFC, dan ACC hingga tercipta prosesor cerdas tapi peduli sesama dan berdimensi pandang lebih dari 4 dimensi.

Era post truth dengan informasi asimetriknya mengajarkan kita pada kuatnya konstruksi kebenaran maya yang bersifat ilusif, delusif, dan mendorong terciptanya kondisi posesif pada keyakinan yang terbangun dalam prosesnya. Maka yang diperlukan saat ini bukan sekadar otak pemimpin transformatif, karena perubahan memang keniscayaan, maka wajib hukumnya untuk berubah.

Tetapi persoalan mendasar umat manusia yang segala kompetensi dan kapabilitasnya mulai dapat direplikasi AI dan DL, adalah mempertahankan esensi hakiki kodrati manusiawi. Kesadaran yang tidak sekadar dibangun oleh data dan fakta (yang sebagian delusional), melainkan kesadaran akan peran dan tujuan sejati.  Kesadaran tentang makna keberadaan, tentang makna dari permaknaan dan mengapa makna harus dimaknai.

Ini pertanyaan yang lahir dari rahim minda seorang John Searle yang maujud dalam bentuk argumentasi provokatif: chinese room argument. Sadarkah kita siapa sebenarnya kita? Yang mampu menjawab pertanyaan mendasar ini adalah seseorang yang mendapat wahyu makutarama berupa layang kalimusada, seorang pemimpin yang mengenal betul siapa dirinya dan karena itu dapat membimbing orang di sekitarnya untuk mengenal potensi fitriah diri mereka sendiri.

Inilah pemimpin transformatif sesungguhnya. Pemimpin dengan jenis kecerdasan baru, yang bukan sekadar diindikasikan melalui ukuran keterampilan berpikir dan menggunakan otak, melainkan seorang pemimpin yang telah mampu mengembangkan Kecerdasan Waskita, kecerdasan KW yang mampu menghantarkan kita memasuki alaf baru yang mungkin akan dinamai abad post human.

Leave a Reply

Your email address will not be published.