Setelah menyampaikan salam dan greeting kepada para narasumber dan tamu undangan, Prof.Taruna menjelaskan bahwa NeuroLeadership in Action merupakan tema yang sangat menarik dan tak bisa lepas dari ilmu neurosains. Menurutnya, ilmu neurosains adalah ilmu yang sangat menjanjikan. Neurosains adalah ilmu masa depan yang kelak akan dibutuhkan di hampir semua sektor. Sejarah telah membuktikan bahwa peradaban umat manusia amat ditentukan oleh kualitas otak.

Segala upaya yang dipikirkan manusia tak lepas dari koordinasi otak. Sehingga dapat dikatakan bahwa otak sebagai mahkota dari kehidupan. Walau fisiknya kuat, namun apabila otaknya rusak, maka tidak akan berarti apa-apa, karena di otak lah letak kemanusiaan seorang manusia. Jika otak sudah sakit, maka kemanusiaan pun hilang.

Beliau juga menjelaskan bahwa di masa depan kelak kemampuan otak akan dinilai. Contohnya telah terjadi saat ini, contoh riilnya adalah bahan baku “kina” yang merupakan obat malaria. Bahan baku ini tumbuh subur di Indonesia, tepatnya di Papua, namun karena keterbatasan teknologi, bahan baku ini dikirim ke Jerman oleh karena kemampuan otak. Artinya, kualitas berpikir orang Jerman lebih baik dari orang Indonesia. Mereka memiliki skill, instrumen alat, dan sarana pendukung lainnya yang merupakan produk pikiran, yang membuat kita harus membeli “barang jadi” kina ini 10.000 kali lebih mahal dari bahan bakunya.

Di Amerika, perkembangan ilmu neurosains sangat signifikan, bahkan kini telah menjadi ilmu wajib. Prof. Taruna Ikrar menjelaskan bahwa ada 3 hal prinsip yang menjadi rujukan bangsa besar di masa depan. Pertama, brain artificial Intelligence. Kecerdasan otak buatan ini membuat daya berpikir otak menjadi tidak cepat lelah. Inovasi yang dihasilkan pun jauh lebih canggih dan besar. Menggerakkan perubahan pada akhirnya jauh terasa lebih mudah. Kedua, energi yang bisa diperbaharui. Saat ini sudah ada energi matahari, angin, atau air, ke depan, sumber energi akan jauh lebih beragam, contohnya adalah bio engineering. Ketiga, regenerative medicine, yakni regenerasi organ dalam bentuk artifisial. Contohnya adalah transplantasi organ dan transplantasi jaringan. Bahkan jelas beliau di Amerika telah berkembang sel jantung buatan.

Beliau mengimbau BI Institute dapat mengembangkan diskusi tentang brain yang merupakan “how making machine” seperti yang dijelaskan di dalam buku karya Roy T. Amboro.

Di akhir penjelasan, Prof. Taruna Ikrar menyampaikan bahwa NeuroLeadership adalah manifestasi dari neurosains. NeuroLeadership membentuk kepemimpinan berbasis otak yang terus belajar dalam mengambil berbagai keputusan. Hal ini tak luput dari kinerja 3 bagian inti di otak: PFC, limbik dan neurotransmiter. Yang terakhir ini dapat diibaratkan sebagai oli untuk mobil. Di dalam tubuh kita dikenal dengan sebutan hormon. Intinya adalah pemimpin yang mengoptimalkan fungsi otaknya maka ia akan terhindar dari kata “panik”.

Beliau menyimpulkan bahwa hasil diskusi acara ini hendaknya melahirkan pemimpin yang dapat melatih neurokompensasi, sehingga muncul pemikiran cerdas cemerlang dalam rangka mempengaruhi berbagai kebijakan di masa depan. Pemimpin yang cerdas otak adalah yang mampu memberi pengaruh baik terhadap pengambilan keputusan yang rasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *