Pada seri Webinar kedua di era pandemi covid 19, Neuroleadership Indonesia menghadirkan Ketut Mardjana, salah satu Board of Advisor Neuroleadership Indonesia. Beliau adalah seorang tokoh transformasi BUMN. Adalah Ketut Mardjana yang menjadikan Pos Indonesia sebagai organisasi modern dari sebuah perusahaan jawatan dengan beban operasional besar dan tuntutan pasar yang berubah. Kini Ketut Mardjana adalah salah satu tokoh pariwisata di pulau dewata Bali dan mengelola sebuah resort terkemuka Toya Devasya. Bagaimana beliau melihat situasi yang terjadi di tanah air akibat wabah covid 19. Bagaimana transformasi usaha menjadi kunci untuk bertahan di tengah pandemi? Inilah yang dibahas dalam sesi webinar ini.

 

Diskusi kali ini dimulai dengan membahas dampak bisnis dari penyebaran wabah ini tidak hanya di Indonesia melainkan juga di dunia. Di sesi ini Bapak Ketut Mardjana menceritakan pengalaman beliau mengalami berbagai macam krisis yang kemudian menuntut adanya perubahan. Transformasi ternyata adalah produk dari krisis, desakan perubahan yang membuat perusahaan harus mengambil keputusan besar agar bisa bertahan hidup. Berbeda dengan transformasi yang pernah dilakukan beliau, ada sebuah pengalaman unik saat beliau memegang kendali Pos Indonesia. Di saat banyak orang pesimistis dengan masa depan Pos Indonesia, Ketut Mardjana melihat bahwa organisasi ini memiliki potensi besar dengan jejaring yang dimilikinya. Perubahan paradigma diperlukan untuk melakukan transformasi bisnis Pos Indonesia dari paradigma bisnis pos menjadi bisnis jaringan. Dengan mengubah PT Pos Indonesia sebagai digital bisnis, organisasi ini tidak hanya bertahan tapi mampu menghasilkan kinerja terbaik.

 

Salah satu yang dianggap penting oleh beliau dalam melakukan transformasi adalah spiritual leadership. Dengan mengambil contoh gajah, beliau menjelaskan konsep spiritual leadership dalam menjalankan bisnis dan membangun usaha. Gajah yang secara fisik besar, memiliki telinga yang lebar tetapi mulut kecil. Ini diartikan bahwa raksasa seperti gajah perlu banyak mendengar, mementingkan layanan, dibandingkan dengan banyak unjuk kekuatan.

 

Dalam menghadapi perubahan di tengah pandemi corona ini, Ketut Mardjana menyarankan agar kita tetap optimis, tidak khawatir berlebihan, dan percaya akan apa yang sedang dilakukan

Pemerintah disamping tetapi memperhatikan apa yang terjadi dalam membuat perencanaan strategis hingga 5 tahun ke depan. Sebagai pemimpin, dalam menghadapi tantangan yang ada harus mengedepankan hubungan positif dengan mereka yang ia pimpin. Komunikasi menjadi faktor yang sangat penting. Di saat saat sulit seperti inilah maka kedekatan pemimpin pada bawahannya menjadi modal penting untuk meyakinkan dan menenangkan mereka dalam menghadapi perubahan dan pilihan-pilihan sulit yang harus diambil. Dengan ketenangan yang ada, maka kita akan bisa menemukan berbagai solusi dari situasi yang tampaknya seperti tanpa harapan. Prinsip ini sejalan dengan konsep neuroleadership yang menekankan ketenangan dan penguasaan emosi dalam menghadapi tekanan.

 

Secara umum, ada sisi positif dari perubahan yang terjadi, otak manusia pada dasarnya menyukai hal yang baru. Namun demikian untuk bisa menghadapi tantangan baru diperlukan kecerdasan menggunakan otak sehat kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *