NEUROSCIENCE FOR LIFE
( Neurosains Untuk Kehidupan Mulia )

Apa Itu Neurosains ?

Neurosains / Neuroscience berasal dari kata neuron yang artinya sel saraf otak dan sains/science yang artinya ilmu. Neurosains adalah ilmu yang mempelajari sistem saraf, terutama mempelajari neuron atau sel saraf, dengan menggunakan pendekatan yang multidisipliner. Tujuannya, untuk mempelajari dasar-dasar biologi (termasuk sistim listrik dan kimiawi) yang terjadi dalam otak (sel saraf) dari setiap pikiran dan perilaku yang kita lakukan.
Neuron atau sel saraf adalah unit paling kecil dari sistem saraf yang menerima dan membawa sinyal melalui kerja listrik dan kimiawi. Sistem listrik dan kimiawi yang terjadi di tingkat neuron inilah yang memiliki hubungan yang sangat erat sekali dengan perilaku manusia. Seseorang yang memiliki kesamaan struktur otak (kembar siam), boleh jadi perilakunya berbeda. Mengapa? Karena ada perbedaan penggunaan sistem listrik dan kimiawi di tingkat neuron ini. Oleh karena neuron (sel saraf) sangat berhubungan perilaku maka Neurosains juga disebut sebagi ilmu yang menjelaskan tentang perilaku manusia berbasis otak.

Penelitian terkini di bidang neurosains menemukan sejumlah bukti tentang hubungan yang sangat erat sekali antara otak dan perilaku manusia. Dengan menggunakan intrumen pemindai otak yang bernama Positron Emission Tomography (PET) dibuktikan bahwa sedikitnya ada tujuh sistem otak yang secara bersama-sama dan terpadu meregulasi semua perilaku manusia termasuk pengaturan kognisi, emosi, sistem sensorik dan motorik yang menghasilkan sikap dan perilaku Customer memilih sebuah merek produk. Ketujuh sistem otak tersebut meliputi cortex prefrontal_cpf, insula cortex, girus cinguli, sistem limbik, ganglia basalis, lobus temporalis dan cerebelum.

Pilar-pilar Neurosains,
Menurut dr. Taruna Ikrar PhD, dokter ahli otak dan jantung dari Irvine University, California dalam kuliah neurosainsnya bahwa dasar – dasar neurosain terdiri dari NeuroAnatomi, Neuropsikologi dan NeuroBiologi. Kemudian berkembang menjadi neurogenetika dan neuromolekuler, neuroteknologi (pewarnaan histologi sel saraf) dan neuroenggineering (rekayasa neural) serta berkembang dan bersinergi dengan disiplin ilmu lainnya psychoneuroimmunology, clinical neuroscience (ahli saraf/neurology, neurosurgery dan psikiatry ), educational neuroscience yang di dalamnya saya masukkan neuroteaching dan neuroparenting.
NeuroAnatomi, mempelajari struktur dan fungsi otak normal. Neuropsikologi, mempelajari sifat-sifat (karakter) otak normal dari setiap pikiran dan perilaku, dan NeuroBiologi, mempelajari proses biologi dan kimiawi yang terjadi pada otak normal dari setiap pikiran dan perilaku.

Donal W Pfaf, seorang neurosaintis dalam bukunya “The Neuroscience of Fair Play” (2007) berpendapat bahwa kepatuhan pada aturan main kebaikan (golden rule) adalah inheren dalam otak manusia. Maksudnya, sirkuit saraf telah tertata sedemikian rupa secara embriologis untuk mendukung kepatuhan manusia pada aturan main kebaikan. Hal-hal etis (seperti kejujuran, keikhlasan dll) sudah tertanam secara biologis dalam otak manusia bersama penciptaan manusia.

NEUROSAINS, Psikologi, Psikiatri dan Neurologi.

Neurosains (Neuroscience) mempelajari dasar-dasar biologi (sistem listrik dan kimiawi) yang terjadi dalam sel-sel saraf ( dalam otak) dari setiap pikiran dan perilaku. Perubahan sistem bisologi yang ada dalam sel-sel saraf akan mempengaruhi bagaimana kita berpikir dan berperilaku. Dan gaya berpikir dan berperilaku akan mempengaruhi struktur, fungsi dan sifat otak. Neurosains mempelajari aturan main kebaikan (golden rule) lalu menjadikannya sebagai dasar untuk mendesain pikiran dan perilaku yang baik. Seperti, sirkuit saraf kejujuran yang di mainkan oleh 7 bagian otak , bila bagian ini kondisinya baik maka perilaku kejujuranpun akan terwujud. Juga, sirkuit saraf belajar (sirkuit papetz) akan aktif bila cara belajar sesuai dengan cara kerja sirkuit tersebut. Neurosains mempelajari perubahan pikiran dan perilaku di tingkat seluler (sistem sel saraf).

Psikologi, ilmu yang mempelajari proses-proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) sebagai akibat respon lingkungan. Proses-proses mental yang dipelajari dalam psikologi dimodelkan dengan berbagai macam prinsip-prinsip dan teori-teori abstrak seperti psikologi kepribadian, psikologi perkembangan, psikologi perilaku dan kognitif tradisional, dan semuanya itu tidak berhubungan dengan proses/sistem sel saraf. Dalam neuropsikologi menjelaskan hubungan psikologi dengan neurosain secara ilmiah bisa di buktikan melalui latihan mental dan psikoterapi. Bahwa latihan mental yang di lakukan terus-menerus dan psikoterapi dapat mengubah otak (“Teori Neuroplastisitas”) yang dapat di deteksi dengan alat pecitraan otak (brain image).

Psikiatri, ilmu yang mempelajari gangguan jiwa/mental. Dalam riset neurosains terkini di laporkan bahwa gangguan jiwa (seperti skizofrenia, OCD, depress dan lainnya) sesungguhnya adalah gangguan otak (Daniel Amen). Psikiatri merupakan ilmu otak yang bertumpu pada neurosains, maka di beberapa Negara telah merubah psikiatri dengan ensefalotri (ensefalon = otak).
Neurologi, ilmu yang mempelajari gangguan struktur dan fungsi otak. Neurologi berkaitan dengan penyakit dari sistem syaraf pusat dan periferal seperti ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) dan stroke. Dalam perkembangannya, neurologi juga mempelajari fungsi luhur otak sehingga muncul ilmu neurologi behavior yang memiliki irisan lebih besar dengan bidang neurosains.
Hubungan Neurosains Dengan Ilmu Multidisiplin,
Dalam implementasinya, neurosains mewarnai berbagai ilmu seperti psikiatri, psikologi, neurologi, bedah saraf hingga ilmu sosial dan pendidikan.

Bagaimana kita berpikir dan berperasaan, berperilaku, mempelajari karakter, tehnik-tehnik peningkatan potensi diri, sistem pengasuhan, sistem pembelajaran_yang semuanya mengacu pada kinerja otak, dapat di pelajari dengan menggunakan pendekatan Neurosains.

KONSEP NEUROSCIENCE FOR LIFE,

Neuroscience For Life adalah konsep perilaku atau gaya hidup berbasis otak sehat. Konsep ini saya beri nama konsep NeuroscienceForLife (NFL) atau en-ef-el (enefel). Munculnya konsep ini bermula dari keinginan saya berbagi ilmu neurosains (ilmu perilaku berbasis otak) untuk masyarakat khususnya yang masih awam tentang ilmu ini. Saya sendiri berkeyakinan bahwa semua masyarakat ( pribadi, orangtua, guru, para professional dan lainnya) harus mengenal dan memahami ilmu neurosains. Mengapa demikian? Karena telah dibuktikan secara ilmiah bahwa perilaku kehidupan kita dikendalikan oleh satu organ yang amat sangat penting yang bernama Otak. Dan ini di pelajari dalam Neurosains.
Neuroscience For Life, mempelari perilaku atau gaya hidup yang bersumber dari otak sehat. Otak sehat bukan hanya sekedar otak normal. Otak kita bisa normal, namum belum tentu otak kita sehat. Jadi, otak sehat bukan sekedar otak normal.

Mengutip pendapat dari Prof.Dr.dr. Moh. Hasan Machfud, SpS(K)(yang biasanya kami di MNI menyebut beliau dengan Prof Suhu) tentang otak normal disebutkan sebagai keadaan fisiologis (bekerjanya secara baik fungsi-fungsi otak) dan tidak adanya suatu keadaan yang patologis (kelainan/penyakit dari otak). Sedangkan “otak sehat” lebih mewakili suatu keadaan otak yang berkaitan dengan makna hidup dan spiritualitas. Terdapat makna yang esensial yang berkaitan dengan human being.
Dalam desertasinya DR.dr.Taufiq Pasiak MPdi, MKes (Sekjen INS), saya temukan konsep otak sehat yang lebih utuh.

Menurutnya,Otak Sehat adalah otak normal yang digunakan untuk berpikir dan memiliki spiritualitas. Dalam implementasinya, saya lebih menandaskan bahwa penggunaan berpikir lebih di tandaskan pada upaya berpikir benar (bukan berpikir sesat) yang berlandaskan pada nilai-nilai hati nurani. Maka otak sehat adalah otak normal yang selalu digunakan untuk berpikir benar (bukan sesat) dan selalu mengorbit pada nilai-nilai hati nurani (nurani cerah).

Selamat berkarya hari ini,…

 

SalamOS ~OtakSehat

Dokter Amir Zuhdi
Penggagas NeuroscienceForLife

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *